Monday, September 15, 2014

Pelaku Kegiatan Ekonomi

Ekonomi kelas x . bolgspot.com akan menampilkan sejumlah blog post untuk kalian mengenai materi pelaku kegiatan ekonomi. Materi ini diberikan kepada kalian agar kalian dapat menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya dengan cara mensyukuri sumber daya karunia Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan mengamalkan ajaran agama dalam pengelolaan keuangan bank dan lembaga keuangan lainnya.

Selain itu kalian juga diharapkan dapat mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia melalui sikap peduli, disiplin, tanggung jawab dalam mengatasi kelangkaan sumber daya dan sikap peduli, kreatif, kerja sama, dan mandiri dalam mengatasi permasalahan ekonomi di lingkungan sekitar kalian.

Materi ini juga membantu kalian dalam memahami,  menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minat kalian untuk memecahkan masalah khususnya dalam memahami perilaku konsumen dan produsen serta peranannya dalam kegiatan ekonomi. 

Materi yang akan kalian pelajari di ekonomi kelas x .blogspot.com terkait pelaku kegiatan ekonomi adalah sebagai berikut :
Peran pelaku kegiatan ekonom klik untuk melihat

Model diagram interaksi antar pelaku ekonomi/ circulair flow diagram klik untuk melihat

Masalah Ekonomi dan Cara Mengatasinya

Ekonomi kelas x . bolgspot.com akan menampilkan sejumlah blog post untuk kalian mengenai materi masalah ekonomi dan cara mengatasinya. Materi ini diberikan kepada kalian agar kalian dapat menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya dengan cara mensyukuri sumber daya karunia Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan mengamalkan ajaran agama dalam pengelolaan keuangan bank dan lembaga keuangan lainnya.

Selain itu kalian juga diharapkan dapat mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia melalui sikap peduli, disiplin, tanggung jawab dalam mengatasi kelangkaan sumber daya dan sikap peduli, kreatif, kerja sama, dan mandiri dalam mengatasi permasalahan ekonomi di lingkungan sekitar kalian.

Materi ini dapat membantu kalian dalam memahami,  menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minat kalian untuk memecahkan masalah khususnya dalam menganalisis hukum kelangkaan dalam ekonomi dan menganalisis masalah pokok ekonomi serta mencari pemecahannya melalui berbagai sistem ekonomi.

Materi yang akan kalian pelajari di ekonomi kelas x .blogspot.com terkait masalah ekonomi dan cara mengatasinya adalah sebagai berikut :

Sistem ekonomi klik untuk melihat

Sistem Perekonomian

“Hai guys,..... ekonomi kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang Sistem Perekonomian. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam menganalisis hukum kelangkaan dalam ekonomi dan menganalisis masalah pokok ekonomi serta mencari pemecahannya melalui berbagai sistem ekonomi.

Sistem ekonomi adalah keseluruhan tata cara, aturan, dan kebiasaan-kebiasaan yang umum diterima dalam masyarakat yang mengatur dan mengoor- dinasikan perilaku warga masyarakat (para konsumen, produsen, pemerintah, dan sebagainya) dalam men- jalankan kegiatan ekonomi (produksi, perdagangan, konsumsi, dan sebagainya) sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan yang teratur dan dinamis. Oleh karenanya, sistem ekonomi dinilai dapat menjawab masalah ekonomi, apa (what), bagaimana (how), dan untuk siapa (for who).

Sebelum dikenal sistem ekonomi, dalam perekonomian dikenal tiga pola dasar koordinasi, yaitu:
Tradisi; bahwa kegiatan ekonomi didasarkan pada adat kebiasaan yang diwariskan dari nenek moyang.
Pasar; bahwa pasar berfungsi sebagai koordinator yang mengatur, menggerakkan, dan mengoordinasikan seluruh kegiatan ekonomi masyarakat melalui mekanisme harga. Hal ini berkaitan dengan falsafah neo-liberalisme, kapitalisme, usaha swasta, pasar bebas, dan kebebasan individu.
Negara; negara dengan peraturannya dari atas, menjadi koordinator, pilot, dan kompas seluruh kehidupan ekonomi. Hal ini berkaitan dengan falsafah Marxisme komunisme, bisa juga elit politik feodal yang berkuasa.

Dalam sejarah perkembangan ekonomi, berabad-abad lamanya kegiatan ekonomi diberbagai negara diatur oleh adat kebiasaan dalam sebuah perekonomian tradisional. Ekonomi tradisional terdapat pada masyarakat yang kehidupannya masih sangat sederhana. Umumnya, aktivitas mereka dilakukan dengan cara yang sederhana dan didasarkan pada kebiasaan dan adat istiadat secara turun temurun. Secara konseptual, ekonomi tradisional adalah ekonomi yang didasarkan pada tradisi, adat, dan kebiasaan. Jawaban untuk masalah ekonomi mengenai apa yang harus diproduksi, bagaimana memproduksi, dan untuk siapa barang diproduksi ditentukan oleh tradisi.

Pada ekonomi tradisional, teknik produksi dipelajari dan digunakan secara turun temurun dan bersifat sederhana, sehingga modal yang dibutuhkan dalam proses produksi hanya sedikit. Selain itu dalam ekonomi tradisional belum mengenal pembagian kerja. Tanah merupakan tumpuan kegiatan produksi dan sumber kemakmuran, sehingga kegiatan ekonomi pun bertumpu pada sektor agraris.

Dalam masyarakat feodal, kekuasaan ekonomi terpusat ditangan raja dan elite bangsawan. Mereka menuntut upeti dan kerja paksa dari bawahan- nya untuk kepentingan raja dan istana tanpa memikirkan kepentingan rakyat. Sebagai imbalannya, raja bertanggung jawab atas keamanan daerah kekuasaannya. Kegiatan produksi hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Ekonomi tradisional, sekarang ini hanya dianut oleh sebagian kecil negara- negara di dunia. Contohnya, dapat ditemukan di Artik, Canada, Patagonia, dan juga di banyak negara kurang berkembang, aspek-aspek penting perilaku ekonomi masih diatur oleh pola tradisional. Contoh kegiatan ekonomi tradisional antara lain: mengolah sawah dengan bajak, memancing (menangkap ikan), berkebun, beternak, dan membuat kerajinan tangan.

Pada abad pertengahan, kehidupan ekonomi mulai diatur oleh gilde, yaitu semacam serikat pekerja yang mengatur produksi, harga, persaingan, dan kesempatan kerja untuk setiap cabang produksi. Dan ketika negara- negara di Eropa mulai terbentuk, pemerintah feodal mulai merasa berkepentingan untuk memajukan perekonomian nasional. Langkah yang diambil ialah dengan mulai mengatur perdagangan internasional, produksi untuk ekspor, dan pembayar- an antarnegara. Untuk itu dikeluarkan berbagai peraturan yang sangat ketat dan mendetail. Bentuk campur tangan ini dikenal dengan nama merkantilisme.

Akhir abad ke-18, pada waktu revolusi industri mulai bermunculan pabrik- pabrik besar, dan perdagangan internasional pun semakin meluas. Dengan terlalu banyaknya peraturan dari pemerintah yang dirasa terlalu mengekang maka muncullah pandangan bahwa pemerintah sebaiknya membatasi diri pada bidang keamanan dan ketertiban saja, dan diharapkan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada konsumen dan produsen untuk mengurus kepentingan ekonominya sendiri. Aturan ini akhirnya dikenal dengan nama liberalisme.

Setiap negara akan mengatur dan mengoorganisir kehidupan ekonominya sesuai pandangan politik, ideologi ekonomi, dan nilai-nilai budaya dari masyarakatnya. Dengan demikian tidak ada satupun negara yang memiliki sistem ekonomi yang sama. Dari sejarah perkembangan ekonomi, akhirnya timbul beberapa sistem ekonomi yang penerapannya berkembang dari pemikiran para ahli ekonomi.

Sistem ekonomi yang dianut diberbagai negara merupakan hasil per- kembangan sejarah serta tanggapan suatu bangsa atas pergolakan zaman serta penerapan pemikiran para ahli ekonomi.

Ditinjau dari sudut organisasi perekonomian, sistem ekonomi dalam perekonomian suatu negara dapat dibedakan menjadi tiga macam sistem ekonomi, yaitu sistem ekonomi perencanaan terpusat (government planned economy), sistem ekonomi pasar (market system), dan sistem ekonomi campuran (mixed economy system).

1. Sistem Ekonomi Sosialis

Sistem perekonomian sosialis adalah suatu sistem perekonomian yang segala kegiatan ekonominya dilakukan oleh pemerintah pusat. Semua pokok permasalahan ekonomi diatasi oleh pemerintah pusat, mulai dari masalah penentuan apa dan berapa jumlah barang yang harus diproduksi, bagaimana barang dan jasa diproduksi, sampai pada persoalan untuk siapa barang dan jasa tersebut diproduksi. Sistem ini beranggapan bahwa kegiatan ekonomi yang dipegang oleh masyarakat secara bebas akan menimbulkan kemiskinan, ketidakadilan, dan pengangguran. Sehingga untuk mengatasi keadaan tersebut, maka pemerintah berkeyakinan akan menjamin kelancaran kegiatan ekonomi secara lebih efisien agar mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkannya.

Ciri-ciri sistem ekonomi sosialis adalah:
  • seluruh kegiatan ekonomi mulai dari produksi, konsumsi, sampai distribusi seluruhnya diatur oleh pemerintah pusat;
  • hak milik barang-barang modal ada di tangan pemerintah sehingga tidak ada hak milik perorangan, kecuali untuk barang-barang yang sudah diberikan kepada masyarakat;
  • tidak ada kebebasan bagi rakyatnya untuk bekerja dan menguasai barang-barang hasil produksinya sebab semuanya milik negara; dan
  • semua pengusaha, buruh, dan orang-orang yang turut melaksanakan produksi pada hakikatnya adalah pegawai negeri.

2. Sistem Ekonomi Kapitalis (Liberal)

Sistem ekonomi kapital (liberal) yaitu suatu sistem perekonomian yang menghendaki adanya kebebasan tiap individu untuk melakukan segala kegiatan ekonomi tanpa adanya campur tangan pemerintah. Sistem ini beranggapan bahwa jika setiap pelaku ekonomi diberikan kebebasan untuk melakukan kegiatan ekonomi dalam rangka mencari keuntungan yang setinggi-tingginya, maka pada waktu yang bersamaan masyarakat juga akan memperoleh keuntungan.

Ciri-ciri sistem ekonomi kapitalis (liberal) adalah :
  • Masyarakat mempunyai kebebasan untuk berproduksi; bebas menentukan barang dan jasa yang akan diproduksi, bebas menentukan bentuk perusahaan yang akan digunakan, bebas menentukan harga, dan lain-lain.
  • Masyarakat mempunyai kebebasan dalam berkonsumsi.
  • Ada kebebasan masyarakatnya untuk menentukan bagaimana sumber daya ekonomi akan digunakan.
  • Produksi dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan laba dan semua kegiatan ekonomi didorong oleh prinsip laba, sehingga sistem ekonomi ini sering disebut profit economy.

Pada sistem ini persoalan-persoalan ekonomi yang menyangkut barang dan jasa apa yang akan diproduksi dapat teratasi dengan menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan keinginan para pembeli. Hal ini dilakukan karena para produsen mengejar keuntungan yang tinggi sehingga mereka akan menekan biaya produksi serendah-rendahnya dengan menekan upah karyawannya. Selain itu banyaknya persaingan juga mendorong para produsen memproduksi secara tidak efisien, pesaing akan muncul dan berusaha memenangkan persaingan bisnis dan akhirnya akan mengambil alih usaha tersebut.

Sebagai balas jasa atas penggunaan faktor-faktor produksi oleh kaum produsen, maka masyarakat akan memperoleh pendapatan, yaitu tenaga kerja akan mendapat upah dan gaji, pemilik modal akan mendapat bunga, pemilik tanah akan mendapat sewa dan kewirausahaan akan mendapat keuntungan. Dari berbagai jenis pendapatan itu akan menentukan banyak sedikitnya jumlah pendapatan dan corak distribusi pendapatan. Tentunya yang berpenghasilan rendah tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan harga yang tinggi yang telah ditentukan dengan bebas oleh kaum produsen. Akibatnya pada sistem pasar bebas ini akan terlihat jurang yang semakin lebar antara masyarakat miskin dengan masyarakat kaya.

Berikut ini kelemahan dari sistem ekonomi kapitalis (liberal), yakni :
  • Banyak penggunaan tenaga kerja di bawah umur dengan upah yang rendah, karena tujuannya untuk mencari keuntungan yang tinggi dengan menekan biaya produksi serendah-rendahnya.
  • Banyak dilakukan perdagangan yang curang, karena tujuannya mencari laba yang tinggi dan menghadapi para pesaing bisnis agar dapat terus menguasai monopoli pasar.
  • Semakin lebar jurang antara si kaya dan si miskin.

3. Sistem Ekonomi Campuran

Sistem perekonomian campuran ini merupakan gabungan dari kedua sistem yaitu sistem ekonomi sosialis dan sistem ekonomi kapitalis (liberal) sehingga ada dua unsur yang saling berdampingan, yaitu pemerintah pusat dan pasar bebas. Sistem perekonomian campuran adalah suatu sistem perekonomian yang dikendalikan dan diawasi oleh pemerintah pusat tetapi masyarakat masih diberi kebebasan untuk menentukan kegiatan-kegiatan ekonomi yang dijalankannya.

Pada dasarnya campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi adalah untuk melindungi masyarakat yang lemah dan tertindas dan mengatasi kegiatan ekonomi yang mengalami fluktuasi atau gelombang ekonomi yang tajam.

Campur tangan pemerintah terdiri atas peraturan-peraturan yang bertujuan untuk mengatur dan meng- awasi kegiatan ekonomi yang dijalankan oleh pihak swasta agar sesuai dengan norma yang wajar. Juga adanya penetapan suatu kebijakan di bidang fiskal dan moneter yang bertujuan agar perekonomian berjalan dengan pesat tanpa mengalami permasalahan inflasi dan pengangguran.

Pada dasarnya, tidak ada satu pun sistem ekonomi yang paling ideal dan sempurna. Selain itu, tidak ada satu negara di dunia yang menggunakan salah satu sistem ekonomi secara murni. Kebanyakan negara tidak lagi menganut salah satu sistem ekonomi, melainkan mencari kombinasi (modifikasi) dari sistem-sistem yang ada yang dirasa paling sesuai dengan situasi dan tradisi negara yang bersangkutan. Amerika Serikat misalnya, meskipun terkenal dengan ekonomi pasar bebasnya namun campur tangan pemerintah terlihat jelas, dengan membuat undang-undang anti monopoli.

Ini berarti bahwa meskipun ekonomi diserahkan pada mekanisme pasar, namun pemerintah juga memberikan batasan- batasan tertentu pada pihak swasta. Selain Amerika, Prancis, dan Kuba juga memodifikasi sistem ekonomi mereka.

Lihat juga :

Sumber :

Indriayu, Mintasih.2009. Ekonomi : Untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional 

Tata Perekonomian Indonesia

“Hai guys,..... ekonomi kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang Tata Perekonomian Indonesia. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam menganalisis hukum kelangkaan dalam ekonomi dan menganalisis masalah pokok ekonomi serta mencari pemecahannya melalui berbagai sistem ekonomi.

Sistem ekonomi yang dianut banyak negara memang berbeda-beda, sesuai dengan falsafah hidup negara yang bersangkutan. Demikian juga dengan negara Indonesia. Sistem ekonomi yang dianut negara Indonesia adalah sistem ekonomi Pancasila. Sistem ekonomi Pancasila adalah salah satu tata ekonomi yang dijiwai oleh ideologi Pancasila, yang di dalamnya terkandung makna demokrasi ekonomi yaitu kegiatan ekonomi yang dilakukan berdasarkan usaha bersama berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah.

Sistem ekonomi Pancasila memberikan kebebasan berusaha kepada setiap warga masyarakat dalam batas-batas dan dengan syarat-syarat tertentu. Produksi masyarakat sebagian besar merupakan usaha swasta, dan di sisi lain ada perusahaan negara, baik dalam bidang pertanian, pertambangan, industri, transportasi, perbankan, jasa, dan lain-lain. Jadi diusahakan adanya keseimbangan yang wajar antara unsur kebebasan dan unsur pengendalian.

Ciri pokok sistem ekonomi Pancasila terdapat pada UUD 1945 Pasal 33, dan GBHN Bab III B No.14.

1. UUD 1945 Pasal 33 Setelah Amandemen 2002
  • Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.
  • Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
  • Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
  • Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
  • Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

2. GBHN Bab III B No. 14

Pembangunan ekonomi yang didasarkan kepada demokrasi ekonomi menentukan bahwa masyarakat harus memegang peranan aktif dalam kegiatan pembangunan. Oleh karenanya maka pemerintah berkewajiban  memberikan pengarahan dan bimbing- an terhadap pertumbuhan ekonomi serta menciptakan iklim yang sehat bagi perkembangan dunia usaha; sebaliknya dunia usaha perlu memberikan tanggapan terhadap pengarahan dan bimbingan serta penciptaan iklim tersebut dengan kegiatan yang nyata.

a. Ciri-Ciri Positif
Demokrasi ekonomi yang menjadi pelaksanaan pembangunan memiliki ciri-ciri positif sebagai berikut :
  • Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.
  • Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
  • Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
  • Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan untuk per- mufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaan ada pada lembaga-lembaga perwakilan rakyat pula.
  • Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
  • Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
  • Potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
  • Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

b. Ciri-Ciri Negatif
Dalam demokrasi ekonomi harus dihindarkan ciri-ciri negatif sebagai berikut :
  • Sistem free fight liberalism yang menimbulkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain dan yang dalam sejarahnya di Indonesia telah menimbulkan dan mempertahankan kelemahan struktural posisi Indo- nesia dalam ekonomi dunia.
  • Sistem etatisme di mana negara beserta aparatur ekonomi negara bersifat dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit- unit ekonomi di luar sektor negara.
  • Pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.

Cara mengatur kehidupan dapat dengan berbagai pola, dan tentu tidak sama di setiap negara. Hal ini selain perbedaan ideologi yang dianut juga merupakan hasil perkembangan sejarah dan kebudayaan suatu negara. Ada negara yang dengan tegas menentukan bahwa pemerintah atau negaralah yang harus menentukan apa dan berapa yang dihasilkan, negaralah yang memiliki serta menguasai segala sumber-sumber daya, mengatur produksi dan distribusi, dan negara pula sebagai sektor ekonomi bangsa. Sebaliknya ada juga negara yang berpendapat bahwa sebaiknya pihak swasta, bukan pemerintah atau negara yang memiliki, menjalankan, menentukan, dan mengelola seluruh kegiatan ekonomi bangsa. Dengan kata lain, pasar bebas dan mekanisme hargalah yang menjadi prinsip koordinasi ekonomi.

Berdasarkan pengalaman dan perkembangan sejarah, kebanyakan negara modern di dunia ini tidak lagi mengikatkan diri pada salah satu dari sistem yang ada tersebut, tetapi mencari suatu jalan tengah antara keduanya, yang dirasa paling sesuai dengan situasi dan tradisi negara yang bersangkutan.

Apa pun sistem ekonomi yang dianut oleh suatu bangsa (negara), berikut ini beberapa tujuan yang diharapkan dapat dicapai oleh sistem ekonomi yang dianut, yaitu :
  • Kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
  • Pertumbuhan ekonomi.
  • Kestabilan ekonomi dengan kesempatan kerja yang luas.
  • Adanya insentif atau dorongan untuk bekerja dan ikut ambil bagian dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
  • Adanya koordinasi yang efektif dan efisien (tepat guna dan berdaya guna) terhadap produksi, konsumsi, dan investasi (misalnya, dalam menanggapi adanya perubahan cara berproduksi atau pola kebutuhan masyarakat).
  • Adanya perimbangan yang wajar antara kepentingan sekarang dan kepentingan masa depan (konkretnya antara konsumsi, tabungan, dan investasi).
  • Adanya perimbangan yang wajar antara barang untuk kepentingan umum (sektor publik) dan untuk kepentingan perorangan (sektor swasta).
  • Adanya kesamaan hak dan pembagian pendapatan yang cukup merata di antara berbagai golongan dan lapisan masyarakat.
  • Adanya perimbangan yang wajar antara kekuasaan dan pengaruh antara atas dan bawah.
  • Diindahkannya nilai-nilai yang melekat pada diri manusia, yaitu hak-hak asasi manusia (HAM), adanya keadilan sosial, kebebasan, kesamaan, solidaritas, hak milik, dan sebagainya.

Sumber :

Indriayu, Mintasih.2009. Ekonomi : Untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional 

Permasalahan Pokok Ekonomi

“Hai guys,..... ekonomi kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang Permasalahan Pokok Ekonomi. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam menganalisis hukum kelangkaan dalam ekonomi dan menganalisis masalah pokok ekonomi serta mencari pemecahannya melalui berbagai sistem ekonomi.

Berangkat pada kenyataan bahwa kebutuhan manusia yang tidak terbatas jumlahnya, dengan alat pemuas yang terbatas jumlahnya sehingga menimbulkan kelangkaan maka akan timbul suatu permasalahan ekonomi yaitu bagaimana dengan sumber-sumber daya yang terbatas manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang banyak dan beraneka ragam itu. Masalah ekonomi ini dihadapi oleh perorangan, keluarga, perusahaan, bangsa, dan negara secara keseluruhan bahkan dunia internasional.

Dengan demikian manusia harus selalu memikirkan upaya-upaya yang harus dilakukan dalam memecahkan masalah ekonomi yang dihadapinya tersebut.

Adapun masalah ekonomi yang dihadapi manusia, pada dasarnya meliputi tiga persoalan pokok, yaitu :
  • Barang dan jasa apa yang harus diproduksi (what)?
  • Bagaimana cara memproduksi barang dan jasa tersebut (how)?
  • Untuk siapa barang dan jasa tersebut diproduksi (for whom)?

1. Menentukan Barang dan Jasa yang Harus Diproduksi

Persoalan ini merupakan faktor penting terutama dalam menentukan corak peng- gunaan faktor-faktor produksi, sehingga barang dan jasa apa saja yang akan diproduksi dan berapa banyak jumlahnya dapat di- tentukan. Barang dan jasa yang dihasilkan sangat banyak jenisnya. Sementara itu sumber daya terbatas jumlahnya sehingga masyarakat (dalam hal ini yang dimaksud adalah produsen) harus menentukan pilihan- pilihan, manakah yang harus dipilih untuk diproduksi.

Setelah memutuskan hal tersebut, masyarakat harus memutuskan berapa jumlah yang harus diproduksi. Dengan demikian pengalokasian sumber daya (faktor produksi) dapat ditentukan. Keputusan-keputusan yang diambil ini tidak lain adalah untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Contohnya, dengan memiliki modal sebesar Y, apakah dapat mendatangkan keuntungan maksimal sebesar X? Apakah sebaiknya modal Y digunakan untuk memproduksi T-shirt ataukah jaket? Produk mana yang lebih disukai konsumen? Manakah yang harus dipilih untuk diproduksi agar mendapat keuntungan maksimal?

2. Menentukan Cara Barang dan Jasa Diproduksi

Setidaknya timbul empat pertanyaan yang timbul ketika akan menentukan cara barang dan jasa diproduksi, yaitu :
  • Bagaimana proses produksi dilakukan?
  • Siapa yang melaksanakan proses produksi?
  • Teknik apa yang digunakan dalam proses produksi?
  • Sumber daya apa saja yang digunakan dalam proses produksi?

Hal-hal di atas dimaksudkan agar terjadi efisiensi selama proses produksi. Masalah efisiensi merupakan salah satu faktor yang akan dijadikan dasar dalam melakukan pemilihan. Pilihan akan diletakkan pada cara memproduksi yang mampu untuk menciptakan barang dan jasa dengan cara yang paling efisien. Masalah efisiensi dalam proses produksi tidaklah terbatas pada efisiensi dari segi teknik dan kombinasi sumber daya yang digunakan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah besarnya jumlah permintaan.

Apabila permintaan sangat besar, maka penggunaan teknik yang modern akan menaikkan efisiensi. Namun jika permintaan tidak terlalu banyak maka penggunaan teknik produksi yang lebih sederhana akan menciptakan efisiensi yang lebih baik. Apabila terjadi efisiensi dalam proses produksi maka produksi dapat berjalan dengan lancar serta menghasilkan keuntungan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Contohnya, pada proses produksi batik tulis, penggunaan tenaga kerja yang banyak akan lebih baik dibandingkan bila menggunakan tenaga mesin karena batik tulis tidak dapat dikerjakan dengan mesin. Dengan demikian penggunaan tenaga kerja tidak dapat digantikan dengan tenaga mesin.

Proses produksi seperti ini akan berdampak tersedianya lapangan kerja dalam jumlah besar sehingga mengurangi pengangguran. Berbeda dengan proses produksi padat modal yang mengandalkan tenaga mesin dan peralatan canggih lainnya, memang pada dasarnya memberi keuntungan pada proses produksi yaitu dapat dilakukan dengan lebih cepat, murah, dan efisien. Namun, hal ini akan menimbulkan banyak pengangguran, karena kesempatan kerja menjadi hilang.

Hal sama akan terjadi, bila kegiatan produksi beralih pada bidang lain. Contohnya, apabila proses produksi batik tulis yang menggunakan padat karya diganti dengan produksi padat modal misalnya produksi cat yang efisiensi lebih tinggi karena meng- gunakan mesin, maka dapat dipastikan pengangguran akan terjadi karena hilangnya kesempatan kerja bagi tenaga kerja.

3. Menentukan untuk Siapa Barang dan Jasa Diproduksi

Permasalahan ini terkait dengan pendistribusian barang dan jasa kepada masyarakat, yaitu untuk siapa barang dan jasa tersebut diproduksi, siapa saja yang memperoleh manfaat atau menikmati barang dan jasa tersebut, serta apakah barang dan jasa tersebut ditujukan pada masyarakat umum ataukah pada segmen pasar tertentu (khusus)?

Sumber :

Indriayu, Mintasih.2009. Ekonomi : Untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional