Monday, November 3, 2014

Mengenal Hukum Gossen

Info Ekonomi

“Hai guys,..... ekonomi kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas mengenal hukum Gossen. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam menganalisis hukum Gossen dalam ekonomi dan menganalisis prilaku konseumen dalam mencapai kepuasan.

Hermann Heinrich Gossen  adalah orang yang kali pertama memperkenalkan hukum tambahan utilitas yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal utility). Gossen hidup pada masa 1810–1858. Pada 1854, beliau menulis karya ilmiah yang berjudul Enwicklung der Gesetze des Menschlichen Verkers und die Darausfliessenden Regeln fuer Menschliches Handeln. Karya ilmiah tersebut merupakan pendahulu dari pemikiran- pemikiran yang dikembangkan oleh para pakar Neo-Klasik. Di antara pemikiran-pemikiran beliau, terdapat dua pemikiran dasar yang menonjol, yang dikenal dengan dua hukum Gossen yaitu Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II.

1. Hukum Gossen I

Berdasarkan pola konsumsi manusia dalam mengonsumsi satu jenis barang untuk mencapai utilitas maksimum, lahirlah Hukum Gossen I yang dikemukakan oleh Hermann Heinrich Gossen. Pada intinya, hukum ini menyatakan:

”Jika pemenuhan kebutuhan akan satu jenis barang dilakukan secara terus-menerus, utilitas yang dinikmati konsumen akan semakin tinggi, tetapi setiap tambahan konsumsi satu unit barang akan memberikan tambahan utilitas yang semakin kecil.”

Utilitas dari meminum air dapat dinyatakan dalam angka. Misalnya, pada saat Anda pertama kali minum, tingkat utilitas Anda baru mencapai nilai 6 util. Selanjutnya, pada saat Anda meminum air dalam gelas kedua nilai tingkat utilitas Anda meningkat menjadi 11util. Demikian juga, pada saat Anda meminum air dalam gelas ketiga nilai tingkat utilitas Anda naik lagi menjadi 15 util. Selanjutnya, secara berturut-turut untuk gelas keempat nilai tingkat utilitasnya menjadi 18 util, untuk gelas kelima nilai tingkat utilitasnya menjadi 20 util, untuk gelas keenam nilai tingkat utilitasnya adalah 21util, untuk gelas ketujuh juga nilai tingkat utilitasnya adalah 21 util. Apabila situasi tersebut digambarkan dalam tabel akan tampak sebagai berikut. 

Tabel Utilitas Total dan Untilitas Marginal

Dari Tabel di atas terlihat bahwa utilitas total akan naik sejalan dengan kenaikan konsumsi air, tetapi laju kenaikannya yang semakin menurun. Tabel di atas juga memperlihatkan bahwa utilitas total dari mengonsumsi sejumlah air sama dengan jumlah seluruh utilitas marjinal yang diperoleh hingga ke titik tertentu. Coba Anda perhatikan. Pada saat Anda mengonsumsi 4 gelas air minum, utilitas total adalah 18 util. Jumlah dari utilitas marjinal hingga Anda mengonsumsi 4 gelas air minum adalah 6 + 5 + 4 + 3 = 18 util. Jadi, utilitas total adalah jumlah seluruh utilitas marjinal yang diperoleh hingga ke titik tertentu. Jika data dari Tabel di atas dibuat kurva akan tampak sebagai berikut.

Kurva Utilitas Total dan Untilitas Marginal

2. Hukum Gossen II

Tidak dapat dipungkiri, manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas. Manusia memiliki banyak kebutuhan, mulai kebutuhan yang sangat penting sampai kebutuhan yang kurang atau tidak penting. Mulai dari kebutuhan primer sampai kebutuhan yang bersifat tersier. Untuk itu, H.H. Gossen mengemukakan lagi teorinya, yang dikenal dengan hukum Gossen II, yang menyatakan: 

“Jika konsumen melakukan pemenuhan kebutuhan akan berbagai jenis barang dengan tingkat pendapatan dan harga barang tertentu, konsumen tersebut akan mencapai tingkat optimisasi konsumsinya pada saat rasio marginal utility (MU) berbanding harga sama untuk semua barang yang dikonsumsinya.”

Contoh Tabel diatas menguraikan tentang seorang konsumen yang memaksimumkan utilitas dari satu barang (air minum) yang dikonsumsinya. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap konsumen selalu mencoba mancapai utilitas maksimum dari berbagai jenis barang yang dikonsumsinya. Seandainya harga setiap barang adalah sama, utilitas akan mencapai maksimum pada saat utilitas marjinal dari setiap barang adalah sama. Sebagai contoh, Fatimah mengonsumsi 3 jenis barang yaitu X, Y, dan Z. Ternyata kuantitas X yang kedua, kuantitas Y yang ketiga, dan kuantitas Z yang kelima, memberikan utilitas yang sama. Jadi, Fatimah akan mencapai utilitas maksimum pada saat mengonsumsi dua unit barang X, tiga unit barang Y, dan lima unit barang Z. Secara ringkas, hal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

MUX  =  MUY  =  MUZ

Adapun untuk barang yang memiliki harga berbeda berlaku rumus sebagai berikut:

MUX / PX =  MUY / PY  =  MUZ / PZ

Keterangan:
  • MUX =  marginal utility barang X
  • MUY =  marginal utility barang Y
  • MUZ =  marginal utility barang Z
  • PXprice (harga) barang X
  • PYprice (harga) barang Y
  • PZprice (harga) barang Z

Sebagai contoh, barang yang dikonsumsi Fatimah memiliki harga yang berbeda-beda, yaitu barang X harga per unit Rp500,00, barang Y harga per unit Rp5.000,00, dan harga barang Z harga per unit Rp10.000,00. Utilitas maksimum akan dicapai oleh Fatimah jika setiap unit barang memberikan utilitas marjinal yang sama untuk setiap rupiah yang dibelanjakan. Kondisi tersebut tercapai pada saat nilai MU barang X adalah 5, nilai MU barang Y adalah 50, dan nilai MU barang Z adalah 100.

Dengan demikian, untuk mencapai utilitas maksimum dari berbagai barang yang dikonsumsi, seseorang harus mengatur konsumsinya sedemikian rupa sehingga setiap unit barang memberikan utilitas marjinal yang sama untuk setiap rupiah yang dibelanjakan.

Sumber :

Widjajanta, Bambang dan Widyaningsih, Aristanti.2009. Mengasah Kemampuan Ekonomi : Untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional 

Pembagian Ilmu Ekonomi

Info ekonomi

“Hai guys,..... ekonomi kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas pembagian ilmu ekonomi. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam mengenal lebih dekat tentang ilmu ekonomi.

Masalah ekonomi sama tuanya dengan usia peradaban manusia. Tetapi, ilmu ekonomi baru muncul pada abad ke-18, melalui buku Adam Smith yang berjudul An Inquiri Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776). Itulah sebabnya Adam Smith dihormati sebagai Bapak Ilmu Ekonomi Modern. Pada masa sebelumnya sebenarnya telah ada pemikir yang tertarik pada masalah ekonomi. Plato, filsuf Yunani abad ke 4 SM dan Thomas Aquinas, rohaniawan Kristen abad ke-13 Masehi yang mencoba memecahkan masalah ekonomi dengan pendekatan moral dan teologis. Adapun Smith melihatnya dari sudut rasionalitas, misalnya, zaman dahulu kemiskinan dianggap sebagai takdir. Namun, semenjak zaman modern (abad ke-18) kemiskinan dipandang ada kaitannya dengan ketidakmampuan bekerja produktif atau karena tidak memiliki tanah.

Lebih lanjut Adam Smith menyatakan bahwa seperti alam semesta yang berjalan serba teratur, sistem ekonomi pun akan mampu memulihkan dirinya sendiri, karena ada kekuatan pengatur yang disebut sebagai tangan- tangan tak terlihat (invisible hands). Dalam bahasa yang sederhana, tangan gaib adalah mekanisme pasar, yaitu mekanisme alokasi sumber daya ekonomi berlandaskan interaksi kekuatan permintaan dan penawaran. Adam Smith sangat percaya bahwa mekanisme pasar akan menjadi alat alokasi sumber daya yang efisien, jika pemerintah tidak ikut campur dalam perekonomian. Fokus pembahasan klasik adalah analisis perilaku individu (produsen dan konsumen) dalam rangka mencapai keseimbangan. Itu sebabnya teori klasik identik dengan teori ekonomi mikro.

Depresi besar yang terjadi tahun 1930-an telah membuyarkan keyakinan terhadap pandangan klasik. Untunglah dalam keadaan yang genting, seorang ekonom Inggris, John Maynard Keynes, menyampaikan ide dan pendapat untuk memperbaiki keadaan melalui bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money, yang terbit tahun1936. Menurut Keynes, kelemahan teori klasik adalah lemahnya asumsi tentang pasar yang dianggap terlalu idealis dan terlalu menekankan masalah ekonomi dari sisi penawaran. Keynes berpendapat untuk pemulihan dilakukan dengan memasukkan peranan pemerintah dalam perekonomian dalam rangka menstimulus sisi permintaan.  Pokok pikiran Keynes telah membawa perubahan dalam ilmu ekonomi, dan berkembang menjadi ilmu ekonomi makro.

Alfred W. Stoiner dan Douglas C. Hagues membagi ilmu ekonomi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut :
  1. Ilmu ekonomi deskriptif (Descriptive Economic), yaitu ilmu ekonomi yang mempelajari dan mengumpulkan fakta-fakta yang ada hubungannya dengan suatu masalah.
  2. Ilmu ekonomi terapan (Applied Economic), yaitu ilmu ekonomi yang menggunakan rangka dasar umum dari analisis yang diberikan oleh ekonomi teori untuk menerangkan sebab-sebab dan arti pentingnya kejadian-kejadian yang dilaporkan oleh para ahli ekonomi deskriptif.
  3. Ilmu ekonomi teori (Economic Theory), yaitu ilmu ekonomi yang memberikan penjelasan mengenai cara suatu sistem bekerja dan ciri- ciri penting dari sistem tersebut.


Ilmu ekonomi teori dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu teori ekonomi mikro dan teori ekonomi makro. Perbedaan antara teori ekonomi mikro dengan teori ekonomi makro dapat dilihat dari  lingkup analisis, fokus analisis, aspek analisis, tujuan analisis, dan asumsi.

1. Ruang Lingkup Analisis

Ibarat hutan, teori ekonomi mikro mempelajari pohon-pohonnya. Adapun teori ekonomi makro mempelajari hutannya itu sendiri. Teori ekonomi mikro diartikan sebagai bagian dari ilmu ekonomi yang menganalisis mengenai bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian. Adapun teori ekonomi makro menganalisis keseluruhan kegiatan perekonomian, bersifat global dan tidak memerhatikan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh unit-unit kecil dalam perekonomian. Misalnya, ekonomi mikro berbicara permintaan dan penawaran suatu barang (misalnya permintaan mobil atau penawaran kopi), adapun yang dibahas di dalam ekonomi makro membahas permintaan dan penawaran barang-barang secara keseluruhan (agregat).

2. Fokus Analisis

Fokus analisis teori ekonomi mikro adalah mengenai perilaku individu seperti perusahaan (produsen), tenaga kerja, dan konsumen dalam konteks yang lebih terbatas (industri). Sementara dalam teori ekonomi makro, fokus pembahasannya berkaitan dengan bagaimana perilaku rumah tangga swasta, pemerintah, dan perdagangan luar negeri (ekspor-impor) dalam konteks keseluruhan (agregat).

3. Aspek Analisis

a. Teori Ekonomi Mikro
Beberapa aspek yang dianalisis teori ekonomi mikro yaitu:
  • proses penentuan tingkat harga dan jumlah barang yang diperjual- belikan di pasar (teori harga);
  • perilaku pembeli dan penjual; bagaimana seorang pembeli menggunakan sejumlah pendapatan untuk membeli berbagai jenis barang yang dibutuhkan; dan bagaimana seorang penjual atau produsen menentukan tingkat produksi yang akan dilakukannya;
  • interaksi di pasar faktor produksi.

b. Teori Ekonomi Makro
Beberapa aspek yang dianalisis dalam teori ekonomi makro, antara lain:
  • menentukan kegiatan perekonomian negara, perubahan harga-harga dan pengaruh perubahan jumlah uang beredar terhadap pengeluaran agregat;
  • pengeluaran agregat;
  • mengatasi pengangguran dan inflasi;
  • kebijakan fiskal dan moneter;
  • pertumbuhan ekonomi;
  • permintaan dan penawaran agregat. Permintaan angregat adalah hubungan antara jumlah output yang diminta dan tingkat harga agregat. Adapun penawaran agregat adalah  hubungan antara jumlah barang dan jasa yang ditawarkan dalam tingkat harga tertentu. 

4. Tujuan Analisis

Teori ekonomi mikro lebih memfokuskan pada upaya pemecahan terhadap  bagaimana mengalokasikan sumber daya agar dapat diperoleh kombinasi yang tepat. Adapun teori ekonomi makro lebih banyak menganalisis pengaruh kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara menyeluruh.

5. Asumsi (Anggapan Dasar yang Digunakan)

Anggapan dasar yang digunakan dalam ekonomi mikro, yaitu sebagai berikut:
  • Semua sumber produktif bekerja dan dipergunakan sepenuhnya, dengan kata lain mekanisme pasar berjalan (fully employed) sehingga tidak ada satupun yang menganggur.
  • Semua barang yang dihasilkan pasti terjual habis.

Adapun anggapan dasar yang digunakan dalam ekonomi makro, yaitu sebagai berikut:
  • Perekonomian tidak selalu berada dalam keadaan full employment, yaitu mekanisme pasar tidak berjalan dengan sendirinya, jadi mungkin sekali masih terdapat pengangguran.
  • Kemungkinan terjadinya over produksi (produksi yang berlebihan), sehingga tidak semua hasil produksi dibeli oleh konsumen. Oleh karena itu diperlukan campur tangan pemerintah.

Sumber :

Widjajanta, Bambang dan Widyaningsih, Aristanti.2009. Mengasah Kemampuan Ekonomi : Untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional